α and Ω
Terjaga, terdampingi, terbiasa memandang lenggak lenggok angin yang menghembus dahan - dahan rindang.
Terbalut rasa amarah yang sempat menyudutkanku ke jurang keputusasaan.
Ku benamkan raga menyelam bersama aliran nafas yang sudah terengas engas.
Membilas keringat sehabis berjibaku bersama mimpi, angan, dan cita - cita.
Hasil dendam akan sebuah ambisi memupuk cinta.
Sebab sedari dini ku lelah melihat pertikaian, selalu tak pernah damai.
Membenci permusuhan, mencela perdebatan, dan menyingkirkan segala arti dari perpisahan.
Mudah lisan mengucap, namun kini tampak damai bagai sebuah hiasan ilustrasinya para seniman.
Rindu rindang daun daun basah saling berpaduan.
Rindu kemesraan, dimana dirimu tak akan lagi pernah bertanya tentang arti kesetiaan.
Sejatinya cinta, sabda semesta yang hadir dalam setiap intuisi puisi yang terus tercipta di kepala.
Kita adalah Alpha dan Omega yang akan terus berlawanan, tetapi selalu mengisi kekurangan.
Komentar
Posting Komentar